Cyberbullying – Apa Saja Yang Orangtua Dapat Lakukan?

Summary

Parents are often oblivious or frivolous towards cyberbullying, although a lot of evidence has shown that it has a negative impact on our children’s psychological well-being. This article will explain the social phenomenon of this new type of bullying in the modern world and what are the things parents should do to protect their children.

Ringkasan

Seringkali orang tua tidak tahu atau menganggap sepele cyberbullying. Padahal begitu jelas dampat negatif yang dapat mempengaruhi perkembangan psikis anak. Berikut penjelasan mengenai fenomena sosial di dunia modern ini dan apa saja yang orang tua dapat lakukan untuk melindungi anak anda.

Cyberbullying: Apa yang Dapat Orang Tua Lakukan?

cyberbullying-page2

Apa itu cyberbullying?

Tentu kita tahu tentang istilah bullying yang artinya kegiatan berulang mengganggu atau menindas anak kecil yang dilakukan oleh anak-anak juga. Bila dilakukan oleh orang dewasa maka istilahnya sudah bukan bullying lagi, namun disebut harassment (melecehkan). Cyberbullying masih menggambarkan tindakan yang sama, hanya saja wadahnya berubah dari lingkungan fisik ke lingkungan internet. Tindakan seperti ini sangat mengganggu perkembangan psikis seorang anak, bahkan dapat meningkatkan risiko bunuh diri bila parah.

Karena jenis-jenis cyberbullying sangat banyak, sulit sekali untuk memberikan gambaran yang tepat mengenai tindakan ini. Namun kita dapat mengenali nya bila kita mengamati dengan seksama apa yang terjadi di media digital.

cyberbullying-page2a

Bentuk-bentuk cyberbullying:

1. Penggunaan kata-kata kasar atau hinaan
2. Mengucilkan seseorang dalam suatu kelompok
3. Menyebarkan fitnah (bisa dalam bentuk menyebarkan foto yang telah dimanipulasi)
4. Pelaku berpura-pura menjadi korban dan merusak nama baik korban
5. Menipu atau memanipulasi korban untuk melakukan tindakan yang sebenarnya tidak diinginkan (seperti menyebarkan foto masa kecil, dll.)
6. Cyberstalking: pelaku menguntit semua akun korban di internet dan terus mengganggu korban
7. Pelaku mengunggah video penindasan fisik/verbal yang dilakukan kepada korban, untuk mencari perhatian netizen.

Mengapa Anak Yang Menjadi Korban Jarang Melapor?

cyberbullying-page3

Tidak sedikit anak yang menjadi korban cyberbullying tidak melapor, sebab dalam kondisi yang sangat lemah (karena berulang kali dilecehkan, dll.) mereka takut akan konsekuensinya. Konsekuensinya dapat berupa perasaan malu karena akan dianggap lemah atau cengeng bila melapor, takut pelaku akan semakin menindas, takut tidak ada yang percaya, dan takut kalau orang dewasa akan membatasi penggunaan media digital. Bahkan bila sudah sangat parah, anak akan merasa ‘pantas’ dirinya dilecehkan oleh anak-anak disekitarnya.
Berdasarkan survey 90% anak tidak mau melapor ke orang tua karena mereka mempunyai asumsi bahwa orang tua akan membatasi penggunaan media digital mereka atau orang tua hanya akan bilang “biarkan saja”, tanpa adanya dukungan moral yang sangat dibutuhkan oleh anak.

Apa yang orang tua bisa lakukan?

– Diskusi menggenai penggunaan media digital
Jelaskanlah kepada anak anda untuk belajar bertanggung jawab ketika menggunakan teknologi tersebut (contoh: perlakukan orang lain dengan sopan dan hormat).Bertemanlah dengan anak anda di media sosial, namun jangan lupa diskusikan dahulu dengan anak anda apa saja yang tidak boleh atau boleh dilakukan, serta batasan-batasannya. Ingat, jangan memaksa anak anda untuk mengikuti semua peraturan anda, namun coba dengarkan dulu alasannya. Sebab bila anak anda sudah tidak percaya dengan anda, maka dia tidak akan cerita apabila menjadi korban nantinya.

cyberbullying-page4

– Kenali tanda-tanda dini cyberbullying pada anak
Tanda yang paling jelas adalah anak menjadi kecewa atau kesal setelah memeriksa komputer, e-mail, smartphone, dll. Atau anda juga dapat menggunakan aplikasi untuk mendeteksi atau mencegah cyberbullying di social school [http://www.socialschool101.com/7-apps-to-monitor-cyber-bullying/].

– Ajarkan anak anda untuk menyimpan bukti
Simpan bukti dalam bentuk screenshot, chat history, e-mail, dan sebagainya.

– Ajarkan anak anda kapan untuk memblokir, mengacuhkan, atau melapor
Namun hal ini tidak selalu berhasil sebab pelaku bisa membuat akun baru. Bila demikian, cobalah merespon tindakan pelaku dengan memberikan kalimat pernyataan yang tegas untuk berhenti. Ingat, jangan gunakan kata-kata agresif dan kasar ketika melakukan ini, karena malah akan memperparah cyberbullying.

– Perlukah memblokir situs media sosial?
Jika anda memblokirnya maka anda memposisikan anak anda yang sudah menjadi korban dan malah menghukumnya untuk tidak mengakses media komunikasi tersebut. Tindakan ini akan semakin membuat anak anda tidak percaya diri dan menutup kemungkinan untuk mendapatkan manfaat bergaul dan belajar di dunia digital. Jauh lebih baik apabila anda menjelaskan tanggung jawab dan hak pengguna media sosial dengan benar, serta kapan harus melapor. Alternatif lain dapat juga menggunakan applikasi untuk memonitor tindakan cyberbullying.

– Komunikasikan dengan orang tua si pelaku
Meskipun tidak selalu efektif, tetapi ini merupakan langkah yang bijak. Lebih baik lagi bila anda mengirimkan surat berserta bukti kejadian (dalam bentuk screenshot atau dicetak di kertas) ke orang tua si pelaku. Tidak kalah penting ketika anda mengontak orang tua pelaku jangan gunakan kata-kata “pelaku” karena mereka akan menjadi sangat defensif. Gunakanlah kata-kata “ada tindakan seperti ini terhadap anak saya” yang terdengar lebih netral tanpa ada maksud menuduh.

cyberbullying-page5

– Selalu belajar sebagai orang tua yang baik
Ikutilah seminar mengenai cyberbullying. Pelajarilah mekanisme dan serba serbi cyberbullying dari sumber yang terpercaya. Konsultasikanlah dengan pakarnya seperti psikolog atau psikiater sebelum menyalahkan anak karena menggunakan media digital.
Penulis: dr. Andrew Adiguna Halim

Referensi:

Cowie, H. (2013). Cyberbullying and its impact on young people’s emotional health and well-being. The Psychiatrist, 37(5), 167-170. doi:10.1192/pb.bp.112.040840

Gordon, S. (2015, 31 Juli). Eight reasons why victims of bullying do not tell. Diunduh dari: http://bullying.about.com/od/Victims/a/8-Reasons-Why-Victims-Of-Bullying-Dont-Tell.htm

Kowalski, R. M., Limber, S., & Agatston, P. W. (2012). Cyberbullying: Bullying in the digital age (2nd ed.). Malden, MA;Chichester, West Sussex, UK: Wiley-Blackwell.

Kowalski, R. M., Morgan, C. A., & Limber, S. P. (2012). Traditional bullying as a potential warning sign of cyberbullying. School Psychology International, 33(5), 505-519. doi:10.1177/0143034312445244

Patchin, J., & Hinduja, S. (2010). Bullying, cyberbullying, and suicide. Archives of Suicide Research, 14(3), 206-221. doi:10.1080/13811118.2010.494133

Comment (0)

  • Apakah anak saya bodoh?| November 23, 2015

    […] Setiap anak tidak dilahirkan sama, anak-anak dengan gangguan belajar sering dikatakan bodoh atau bahkan lebih parahnya lagi idiot. Hal ini membuat mereka menjadi kurang percaya diri atau bahkan sering dijahili oleh teman-teman sebayanya (disebut juga bullying). Untuk mengetahui contoh lebih lanjut mengenai bullying anda dapat membaca artikel CYBERBULLYING – APA SAJA YANG ORANGTUA DAPAT LAKUKAN? […]

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *